
Nagari Tanjung Haro Si Kabu-kabu, Kecamatan Luak, Kabupaten Lima Puluh Kota, menjadi tuan rumah pelaksanaan Seminar Nasional OPENDESA yang merupakan bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) OPENDESA ke-3. Kegiatan ini diikuti oleh para pegiat desa digital, akademisi, praktisi, serta perwakilan pemerintah desa dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar nasional tersebut dilaksanakan secara hybrid, mengombinasikan kehadiran peserta secara luring di lokasi kegiatan dengan partisipasi daring dari berbagai wilayah. Pelaksanaan hybrid ini memungkinkan diskusi dan pertukaran gagasan berjalan lebih luas dan inklusif, sejalan dengan semangat kolaborasi OPENDESA.
Dalam seminar ini, Ketua Nagari Digital Politeknik Negeri Padang (PNP), Yuhefizar, hadir sebagai salah satu narasumber utama. Kehadirannya sekaligus menegaskan peran Yuhefizar, baik sebagai pimpinan tim Nagari Digital PNP maupun sebagai anggota aktif OPENDESA yang selama ini konsisten mendorong penguatan data dan sistem informasi desa.
Selain Yuhefizar, seminar nasional OPENDESA ini juga menghadirkan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Lima Puluh Kota, Bapak Rahmat Hidayat, sebagai narasumber. Kehadiran Kadis PMD memberikan perspektif kebijakan daerah dalam mendukung tata kelola data desa dan penguatan desa digital.
Narasumber lainnya adalah Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Sumatera Barat, yang pada kegiatan ini diwakili oleh Teddy Rafdianto. Perwakilan Diskominfo Sumbar menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas desa digital dalam membangun sistem informasi yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Seminar nasional ini mengangkat tema besar tentang Satu Data Desa, dengan penekanan bahwa data bukan sekadar angka, melainkan representasi kondisi nyata dan kehidupan masyarakat desa. Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan tantangan pembangunan desa saat ini, khususnya dalam menjamin ketepatan sasaran program dan kebijakan.
Dalam paparannya, Yuhefizar menegaskan bahwa persoalan utama desa bukan kekurangan data, melainkan data yang tidak sinkron antarlevel pemerintahan. Ketidaksinkronan data tersebut kerap berdampak pada ketidaktepatan penyaluran bantuan serta tumpang tindih program pembangunan.
“Data bukan hanya tabel dan angka. Di balik setiap angka ada manusia, ada keluarga, dan ada cerita hidup masyarakat desa,” ungkap Yuhefizar. Ia menegaskan bahwa Satu Data adalah soal satu kebenaran yang disepakati bersama, bukan semata-mata soal teknologi atau aplikasi.

Lebih lanjut, Yuhefizar mengaitkan Satu Data Desa dengan kebijakan nasional Satu Data Indonesia sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2019. Menurutnya, desa harus ditempatkan sebagai fondasi utama Satu Data Indonesia, karena sebagian besar data dasar nasional bersumber dan diverifikasi langsung di desa.
Dalam konteks implementasi, Yuhefizar juga menyoroti pentingnya interoperabilitas data, yaitu kemampuan sistem dan aplikasi untuk saling terhubung dan berbagi data. Tanpa interoperabilitas, data yang telah dikumpulkan dengan baik tidak akan memberikan dampak optimal bagi perencanaan dan pengambilan kebijakan.
Pada kesempatan tersebut, Yuhefizar menyebut OPENSID sebagai salah satu contoh aplikasi Satu Data Desa yang telah banyak digunakan dan terbukti membantu desa dalam menata data penduduk, mempercepat layanan administrasi, serta mendukung keterhubungan data antarlevel pemerintahan.
Seminar nasional ini menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah, akademisi, dan komunitas desa digital. Para peserta menyambut positif diskusi yang berlangsung karena dinilai kontekstual, membumi, dan sesuai dengan realitas yang dihadapi desa sehari-hari.
Melalui kegiatan ini, OPENDESA berharap terbangun komitmen bersama untuk memperkuat ekosistem data desa yang jujur, satu, dan terhubung, sekaligus mendorong kolaborasi lintas pihak dalam mewujudkan desa digital yang mandiri dan berdaulat.
Keikutsertaan aktif Nagari Digital Politeknik Negeri Padang dalam Seminar Nasional OPENDESA ini menegaskan komitmen institusi dalam mendukung transformasi digital desa berbasis data yang berkualitas, partisipatif, dan berkelanjutan.


Sangat membantu sekali. Informasi publik yang sangat berguna untuk masyarakat.